Perpisahan yang Tak Direncanakan: 35 Hari Bersama, Selamanya dalam Kenangan
22 Aug 2026 •
Admin •
32 kali dilihat
Perpisahan yang Tak Direncanakan: 35 Hari Bersama, Selamanya dalam Kenangan
Pelepasan mahasiswa KKN Tematik dari Desa Ngampang kali ini terasa berbeda. Bukan karena masa pengabdian mereka telah selesai sesuai jadwal, tetapi karena keadaan memaksa mereka untuk pulang lebih awal akibat bencana gempa bumi yang melanda Pulau Flores.
Kurang lebih 35 hari mereka hadir, tinggal, dan hidup bersama masyarakat Desa Ngampang. Dalam waktu yang relatif singkat itu, hubungan yang harmonis dan penuh kekeluargaan perlahan tumbuh. Mereka bukan lagi sekadar mahasiswa yang datang untuk menjalankan tugas akademik, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Ngampang.
Selama berada di tengah masyarakat, banyak cerita dan pengalaman yang telah tercipta. Kebersamaan dalam menjalankan kegiatan desa, berdiskusi, bekerja bersama, berbagi cerita, hingga canda dan tawa menjadi bagian dari perjalanan yang tidak mudah dilupakan.
Kehadiran anak-anak KKN Tematik telah memberikan warna tersendiri bagi masyarakat Desa Ngampang. Begitu pula sebaliknya, kehidupan masyarakat desa telah memberikan pengalaman dan pelajaran yang mungkin tidak mereka dapatkan hanya dari bangku perkuliahan.
Namun, perpisahan kali ini datang lebih cepat dari yang direncanakan. Seharusnya masih ada waktu untuk melanjutkan berbagai kegiatan dan program KKN, tetapi gempa bumi yang melanda Flores membuat situasi berubah. Demi keselamatan bersama, anak-anak mahasiswa KKN Tematik terpaksa meninggalkan Desa Ngampang lebih awal.
Dalam suasana haru tersebut, Sekretaris Desa Ngampang yang akrab disapa Pa Yonan, bersama Kepala Desa Ngampang Pa Ansi, menyampaikan pesan kepada anak-anak mahasiswa KKN.
“Selamat menjalankan tugas akademik bagi anak-anak KKN. Kami selaku pemerintah Desa Ngampang dan mewakili seluruh masyarakat menyampaikan permohonan maaf apabila selama kalian berada di tengah-tengah kami terdapat tutur kata, sikap maupun perilaku yang kurang berkenan. Dari hati yang paling dalam, kami memohon maaf.”
Permohonan maaf tersebut menjadi ungkapan ketulusan dari pemerintah desa dan masyarakat yang selama kurang lebih 35 hari telah menerima dan memperlakukan para mahasiswa seperti keluarga sendiri.
“Walaupun pertemuan kita hanya sebentar, namun kami merasa kalian seperti anak kami sendiri.”
Kalimat sederhana tersebut menggambarkan betapa dekatnya hubungan yang telah terjalin. Mereka datang sebagai mahasiswa, tetapi dalam perjalanan waktu menjadi bagian dari keluarga besar Desa Ngampang.
Sayonara dari Anak-anak KKN
Rasa haru juga datang dari pihak mahasiswa. Dalam kesempatan perpisahan tersebut, anak-anak KKN Tematik Unika Santu Paulus Ruteng menyampaikan ucapan sayonara yang diwakili oleh Enu Rilla.
Dengan penuh rasa haru, Rilla mengungkapkan bahwa selama berada di Desa Ngampang, mereka mendapatkan banyak pengalaman berharga yang tidak akan mudah dilupakan.
“Banyak kesan menarik yang kami dapatkan selama berada di sini. Di sini kami tidak hanya menjalankan tugas akademik, tetapi kami juga belajar banyak tentang ilmu kemasyarakatan. Kami belajar bagaimana hidup bersama masyarakat, berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami kehidupan masyarakat secara langsung,” ungkap Rilla.
Menurut Rilla, waktu kurang lebih 35 hari bersama masyarakat Desa Ngampang telah memberikan pengalaman yang sangat berarti bagi seluruh mahasiswa KKN Tematik. Meski harus pulang lebih awal karena situasi gempa bumi, kenangan selama berada di desa akan tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka.
“Kami juga ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pemerintah desa dan seluruh masyarakat Ngampang apabila selama kami berada di sini ada tutur kata, sikap maupun perilaku kami yang kurang berkenan. Maafkan kami. Kami datang sebagai mahasiswa, tetapi kami pulang membawa banyak pengalaman dan kenangan dari masyarakat Desa Ngampang,” lanjut Rilla.
Ucapan tersebut menjadi sebuah sayonara yang penuh makna. Tidak ada yang menyangka bahwa kebersamaan yang awalnya direncanakan akan berlangsung sesuai jadwal harus berakhir lebih cepat karena bencana.
Gempa bumi memang memaksa mereka berpisah, tetapi tidak mampu menghapus kenangan yang telah dibangun. Justru dalam keadaan sulit seperti ini, rasa kebersamaan, kepedulian, dan kekeluargaan semakin terasa.
Bagi mahasiswa KKN Tematik, Desa Ngampang mungkin menjadi salah satu tempat dalam perjalanan akademik mereka. Tetapi bagi masyarakat Ngampang, kehadiran mereka selama 35 hari telah meninggalkan cerita tersendiri. Mereka datang sebagai mahasiswa, tetapi perlahan diterima sebagai anak-anak sendiri.
Perpisahan ini bukanlah akhir dari hubungan. Ini hanyalah akhir dari sebuah masa pengabdian dan awal dari perjalanan baru bagi anak-anak mahasiswa KKN Tematik.
Semoga segala pengalaman yang diperoleh selama berada di Desa Ngampang menjadi bekal berharga dalam menyelesaikan pendidikan dan menjalankan pengabdian kepada masyarakat di masa yang akan datang.
Selamat menjalankan tugas akademik, anak-anak KKN Tematik Unika Santu Paulus Ruteng. Terima kasih telah menjadi bagian dari keluarga besar Desa Ngampang. Mohon maaf atas segala kekurangan dari kami, dan maafkan juga segala kekurangan selama kebersamaan kita.
Datang sebagai mahasiswa, tinggal sebagai keluarga, dan pulang membawa kenangan.
Sayonara anak-anak KKN. Desa Ngampang mungkin menjadi tempat singgah dalam perjalanan kalian, tetapi kalian telah meninggalkan jejak dan kenangan yang akan selalu kami ingat.